Daya Beli Masyarakat Tolitoli Menurun Daya Traktir Meningkat Drastis

Daya beli menrun daya traktir meningkat

Klaim sejumlah pihak bahwa daya beli masyarakat Tolitoli menurun, dituding hanyalah hoax untuk menjelek-jelekkan pemerintah terutama pemerintah daerah Kabupaten Tolitoli yang berkuasa saat ini.

Benar tidaknya tudingan itu tidak ada yang bisa memastikan, kecuali pakar dibidang ekonomi. Namun sampai saat ini belum ada pernyataan resmi dari seorang pakar tentang persoalan tersebut sehingga yang terjadi hanyalah saling tuding dan saling klaim tak berkesudahan.

Bagi orang awam, yang bisa dilakukan hanyalah berasumsi berdasarkan pengamatan terhadap kondisi real yang Ia lihat, dengar dan alami sendiri.

Asumsi inilah yang coba saya sampaikan kali ini.
Sekarangkan jaman demokrasi dimana semua orang memiliki hak berpendapat yang sama, meskipun Ia bukan ahli atau pakar yang menguasai suatu bidang ilmu.

Sifat demokrasi kan memang seperti itu. suara ahli sama nilainya dengan suara awam. Satu suara orang berpendidikan tinggi, berpengetahuan luas, berpengalaman banyak dengan satu suara orang buta huruf, tidak tahu persoalan, miskin ilmu dan pengalaman dimata demokrasi sama-sama dihitung satu.

Jadi saya begitu yakin, apa yang dipublikasikan Dakoan.com pada postingan ini adalah hal lumrah di era demokrasi.

Belakangan ini saya coba melakukan riset kecil-kecilan terkait daya beli masyarakat Tolitoli. Hasil riset tersebut menyimpulkan bahwa benar daya beli masyarakt Tolitoli pada umumnya menurun disisi lain daya traktir sekolompok masyarakat Tolitoli meningkat drastis.

Kesimpulan ini cupup mendasar dan dapat dipertanggung jawabkan.

Sepinya pasar adalah bukti bahwa daya beli masyarakat menurun. Di Pasar Soping dan Pasar Susumbolan misalnya. Beberapa bulan terakhir pedagang ikan harus menyediakan lebih banyak es batu, karena ikan hari ini tidak habis terjual. Sehingga harus dibekukan agar bisa dijual besok.

Begitu juga dengan pedagang sayur cincang. Biasanya sehari mereka dapat menjual sepuluh sampai lima belas kilo sayur cincang. Namun akhir-akhir ini jangankan sepuluh kilo, lima kilo saja sulit terjual. Fakta ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat Tolitoli benar menurun.

Lain halnya di warung kopi. Di warung kopi setiap hari tidak pernah sepi pengunjung. Menurut beberapa sumber yang tidak ingin disebutkan namanya, mengatakan bahwa rata-rata pengunjung warung kopi di Tolitoli adalah orang itu-itu saja dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap atau pengangguran.

Jika benar perkataan sumber Dakoan.com ini, berarti ada diantara pengunjung tetap warung kopi yang bertindak sebagai tukang traktir. Karena tidak mungkin mereka yang pengangguran membeli kopi setiap hari. Apalagi kopi di warkop rata-rata harganya lumayan mahal, makanya sangat tidak mungkin seorang yang tidak berpenghasilan tetap menghabiskan uangnya hanya untuk kopi. Mereka pasti berfikir lebih baik beli beras untuk kebutuhan keluarga. Kesimpulannya adalah daya traktir masyarakat Tolitoli meningkat.

Dari kedua hipotesis diatas kesimpulan akhir yang didapatkan adalah "DAYA BELI MASYARAKAT TOLITOLI MENURUN SEDANGKAN DAYA TRAKTIR MENINGKAT".

*

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama